Sabtu, 13 November 2010

SEJARAH PERJUANGAN HMI*


SEJARAH PERJUANGAN HMI* 
Oleh: Muhammad Haris* 

A. Pengertian
Sejarah adalah suatu peristiwa yang benar-benar terjadi dan terdokumentasikan. Sejarah juga bisa diartikan suatu kebetulan terjadi dimasa lalu dan benar-benar terjadi, dan kebetulan pula dicatat, biasanya kebenaran sejarah didukung bukti-bukti yang membenarkan peristiwa itu benar-benar terjadi. Menurut pengamatan serta analisa bahwa sejarah membuat manusia mengalami romantisme sejarah serta edukatif. Sedang, menurut hemat penulis manfaat serta kegunaan sejarah adalah sebagai; sumber inspirasi, aspirasi dan motifasi.

B. Masyarakat arab pra Islam
Jahiliyah (istilah dipakai untuk menandai masa sebelum Nabi Muhammad SAW lahir), pola hidup primitif, kabilah-kabilah, nomaden, dalam lingkungan yang ummi (tidak mengenal baca tulis), bersuku-suku, primordial, jauh dari peradaban, menyebabkan hidup dalam kegelapan dan tenggelam dalam kebodohan.

C. Masa Kenabian 
# Fase Makkah
Muhammad SAW pada tanggal 17 Ramadhan yang bertepatan dengan 6 agustus 610 datanglah malaikat jibril yang menyampaikan wahyu pertanda bahwa beliau dilantik menjadi rasul dan nabi. Beliau mengajak masyarakat ke arah perubahan akhlak, karena perubahan tersebut sangat urgen. Dimata Allah SWT yang berbeda hanyalah ketaqwaan saja. Pada fase Makkah ajaran yang disampaikan berkaitan dengan ketauhidan atau iman, akhlak.
# Fase Madinah
Kaum muslim yang ada diMadinah ada dua, muhajirin (pendatang dari Makkah) dan anshor (tuan rumah). Langkah Nabi SAW adalah menyatukan kedua kubu tersebut dengan mempertalikan hubungan kekeluargaan atau hubungan persaudaraan antara kaum anshar dan muhajirin. Nabi Muhammad disamping menjadi pemimpin agama juga menjadi pemimpin negara, pemimpin politik, dan administrasi yang cakap.
Dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, yakni, pertama, pembangunan masjid, kedua, ukhuwah Islamiyah, ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain non-muslim.

D. Kondisi Islam di Indonesia
Kondisi ummat Islam sebelum berdirinya HMI dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) golongan, yaitu : Pertama : Sebagian besar yang melakukan ajaran Islam itu hanya sebagai kewajiban yang diadatkan seperti dalam upacara perkawinan, kematian serta kelahiran. Kedua : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang mengenal dan mempraktekkan ajaran Islam sesuai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketiga : Golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang terpengaruh oleh mistikisme yang menyebabkan mereka berpendirian bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan akhirat saja. Keempat : Golongan kecil yang mencoba menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman, selaras dengan wujud dan hakekat agama Islam. Mereka berusaha supaya agama Islam itu benar-benar dapat dipraktekkan dalam masyarakat Indonesia.

E. Kondisi ketika HMI berdiri Latar Belakang Pemikiran Peristiwa Bersejarah 5 Februari 1947
Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan yang berakhir dengan kegagalan. Lafran Pane mengadakan rapat tanpa undangan, yaitu dengan mengadakan pertemuan secara mendadak yang mempergunakan jam kuliah Tafsir. Ketika itu hari Rabu tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan 5 Februari 1947, disalah satu ruangan kuliah STI di Jalan Setiodiningratan (sekarang Panembahan Senopati), masuklah mahasiswa Lafran Pane yang dalam prakatanya dalam memimpin rapat antara lain mengatakan "Hari ini adalah pembentukan organisasi Mahasiswa Islam, karena persiapan yang diperlukan sudah beres. Yang mau menerima HMI sajalah yang diajak untuk mendirikan HMI, dan yang menentang biarlah terus menentang, toh tanpa mereka organisasi ini bisa berdiri dan berjalan"
Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diprakasai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa STI (Sekolah Tinggi Islam), kini UII (Universitas Islam Indonesia) yang masih duduk ditingkat I. Tentang sosok Lafran Pane, dapat diceritakan secara garis besarnya antara lain bahwa Pemuda Lafran Pane lahir di Sipirok-Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pemuda Lafran Pane yang tumbuh dalam lingkungan nasionalis-muslim pernah menganyam pendidikan di Pesantren, Ibtidaiyah, Wusta dan sekolah Muhammadiyah.
Adapun latar belakang pemikirannya dalam pendirian HMI adalah: "Melihat dan menyadari keadaan kehidupan mahasiswa yang beragama Islam pada waktu itu, yang pada umumnya belum memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Keadaan yang demikian adalah akibat dari sitem pendidikan dan kondisi masyarakat pada waktu itu. Karena itu perlu dibentuk organisasi untuk merubah keadaan tersebut. Organisasi mahasiswa ini harus mempunyai kemampuan untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan penghayatan ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan tersebut tidak akan terlaksana kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus turut mempertahankan Negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat.
Pada awal pembentukkannya HMI bertujuan: a. Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia . b. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Sementara tokoh-tokoh pemula / pendiri HMI antara lain : 1. Lafran Pane (Yogya), 2. Ahmad Sadali (Lambang HMI) 3. R. M Akbar (Hymne HMI / Medan) 4. Karnoto Zarkasyi (Ambarawa), 5. Dahlan Husein (Palembang), 6. Maisaroh Hilal (Singapura), 7. Suwali, Yusdi Ghozali (Semarang), 8. Mansyur, Siti Zainah (Palembang), 9. M. Anwar (Malang), 10. Hasan Basri, Marwan, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi (Malang), 11. Baidron Hadi (Yogyakarta). Faktor Pendukung Berdirinya HMI a) Yogyakarta sebagai Ibukota NKRI dan Kota Perjuangan b) Pusat Gerakan Islam c) Kota Universitas/ Kota Pelajar d) Pusat Kebudayaan e) Terletak di Central of Java f) Kebutuhan Penghayatan dan Keagamaan Mahasiswa g) Adanya tuntutan perang kemerdekaan bangsa Indonesia h) Adanya STI (Sekolah Tinggi Islam), BPT (Balai Perguruan Tinggi) i) Gajah Mada, STT (Sekolah Tinggi Teknik). j) Adanya dukungan Presiden STI Prof. Abdul Kahar Muzakir k) Ummat Islam Indonesia mayoritas Kondisi Perguruan Tinggi dan Dunia Kemahasiswaan.

Ada dua faktor yang sangat dominan yang mewarnai Perguruan Tinggi (PT) dan dunia kemahasiswaan sebelum HMI berdiri. Pertama: sistem yang diterapkan dalam dunia pendidikan umumnya dan PT khususnya adalah sistem pendidikan barat, yang mengarah kepada sekulerisme yang "mendangkalkan agama disetiap aspek kehidupan manusia". Kedua : adanya Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) dan Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) di Surakarta dimana kedua organisasi ini dibawah pengaruh Komunis. Bergabungnya dua faham ini (Sekuler dan Komunis), melanda dunia PT dan Kemahsiswaan, menyebabkan timbulnya "Krisis Keseimbangan" yang sangat tajam, yakni tidak adanya keselarasan antara akal dan kalbu, jasmani dan rohani, serta pemenuhan antara kebutuhan dunia dan akhirat.
Reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI 1. Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY)
Reaksi PMY adalah bersifat idiologis, HMI dianggap saingan ketat kehilangan pengaruh serta kekurangan anggota. Mereka mempropaganda bahwa HMI akan bubar dan mati tapi kenyataannya mereka yang mati dan bubar.
2. Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII)
Reaksi dari GPII bukan bersifat idologis, tapi kurang pengertian. GPII merasa dirugikan. Dikatakan bahwa mahasiswa juga pelajar/pemuda, karena GPII ada sekolah pelajar, maka tidak perlu didirikan organisasi mahasiswa.
3. Pelajar Islam Indonesia (PII)
Di kalangan PII banyak terdapat anggota GPII, maka reaksi terdapat kelahiran HMI terdengar dikalangan PII. Dalam kongres I PII di Surakarta tanggal 14 s/d 16 juli 1947 Lafran Pane hadir, walaupun tidak diundang dan duduk dibagian belakang, tidak diperkenankan berbicara atas nama PB HMI, karena PII menganggap HMI tidak ada.
Makna dari lambang HMI adalah a. Bentuk alif
Sebagai huruf hidup, lambang optimisme kehidupan HMI, hurup alif merupakan angka 1 (satu) lambang tauhid, dasar/semangat HMI
b. Bentuk perisai Lambang kepeloporan HMI c. Bentuk jantung Jantung adalah pusat kehidupan manusia. Lambang pungsi perkenalan HMI d. Bentuk pena Melambangkan bahwa HMI adalah organisasi mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan e. Gambar bulan bintang Lambang keimanan/kejayaan ummat Islam seluruh dunia f. Warna hijau Lambang keimanan dan kemakmuran g. Warna hitam Lambang ilmu pengetahuan yang tidak terbatas h. Keseimbangan warna hijau dan hitam Lambang esensi keseimbangan kepribadian HMI i. Warna putih Lambang kemurnian dan kesucian perjuangan HMI j. Puncak tiga Lambang Islam, iman, dan ikhsan, lambang iman, ilmu, dan amal k. Tulisan HMI Singkatan dari Himpunan Mahasiswa Islam 1. Fase Pengokohan (5 Februari 1947 – 30 November 1947)
Selama lebih kurang 9 (sembilan) bulan, reaksi-reaksi terhadap kelahiran HMI barulah berakhir. Masa sembilan bulan itu dipergunakan untuk menjawab berbagai reaksi dan tantangan yang datang silih berganti, yang kesemuanya itu semakin mengokohkan eksistensi HMI sehingga dapat berdiri tegak dan kokoh.
2. Fase Perjuangan Bersenjata (1947 – 1949)
Seiring dengan tujuan HMI yang digariskan sejak awal berdirinya, maka konsekuensinya dalam masa perang kemerdekaan, HMI terjun kegelanggang pertempuran melawan agresi yang dilakukan oleh Belanda, membantu Pemerintah, baik langsung memegang senjata bedil dan bambu runcing, sebagai staff, penerangan, penghubung. Untuk menghadapi pemberontakkan PKI di Madiun 18 September 1948, Ketua PPMI/ Wakil Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corps Mahasiswa (CM), dengan Komandan Hartono dan wakil Komandan Ahmad Tirtosudiro, ikut membantu Pemerintah menumpas pemberontakkan PKI di Madiun, dengan mengerahkan anggota CM ke gunung-gunung, memperkuat aparat pemerintah. Sejak itulah dendam kesumat PKI terhadap HMI tertanam. Dendam disertai benci itu nampak sangat menonjol pada tahun \’64-\’65, disaat-saat menjelang meletusnya G30S/PKI.
3. Fase Pertumbuhan dan Perkembangan HMI (1950-1963)
Selama para kader HMI banyak yang terjun ke gelanggang pertempuran melawan pihak-pihak agresor, selama itu pula pembinaan organisasi terabaikan. Namun hal itu dilakukan secara sadar, karena itu semua untuk merealisir tujuan dari HMI sendiri, serta dwi tugasnya yakni tugas Agama dan tugas Bangsa. Maka dengan adanya penyerahan kedaulatan Rakyat tanggal 27 Desember 1949, mahasiswa yang berniat untuk melanjutkan kuliahnya bermunculan di Yogyakarta. Sejak tahun 1950 dilaksankanlah tugas-tugas konsolidasi internal organisasi. Disadari bahwa konsolidasi organisasi adalah masalah besar sepanjang masa. Bulan Juli 1951 PB HMI dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta.
4. Fase Tantangan (1964 – 1965)
Dendam sejarah PKI kepada HMI merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi HMI. Setelah agitasi-agitasinya berhasil membubarkan Masyumi dan GPII, PKI menganggap HMI adalah kekuatan ketiga ummat Islam. Begitu bersemangatnya PKI dan simpatisannya dalam membubarkan HMI, terlihat dalam segala aksi-aksinya, Mulai dari hasutan, fitnah, propaganda hingga aksi-aksi riil berupa penculikan, dsb.
Usaha-usaha yang gigih dari kaum komunis dalam membubarkan HMI ternyata tidak menjadi kenyataan, dan sejarahpun telah membeberkan dengan jelas siapa yang kontra revolusi, PKI dengan puncak aksi pada tanggal 30 September 1965 telah membuatnya sebagai salah satu organisasi terlarang.
5. Fase Kebangkitan HMI sebagai Pelopor Orde Baru (1966 – 1968)
HMI sebagai sumber insani bangsa turut mempelopori tegaknya Orde Baru untuk menghapuskan orde lama yang sarat dengan ketotaliterannya. Usaha-usaha itu tampak antara lain HMI melalui Wakil Ketua PB Mar’ie Muhammad memprakasai Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) 25 Oktober 1965 yang bertugas antara lain : 1) Mengamankan Pancasila. 2) Memperkuat bantuan kepada ABRI dalam penumpasan Gestapu/ PKI sampai ke akar-akarnya. Masa aksi KAMI yang pertama berupa Rapat Umum dilaksanakan tanggal 3 Nopember 1965 di halaman Fakultas Kedokteran UI Salemba Jakarta, dimana barisan HMI menunjukan superioitasnya dengan massanya yang terbesar. Puncak aksi KAMI terjadi pada tanggal 10 Januari 1966 yang mengumandangkan tuntutan rakyat dalam bentuk Tritura yang terkenal itu. Tuntutan tersebut ternyata mendapat perlakuan yang represif dari aparat keamanan sehingga tidak sedikit dari pihak mahasiswa menjadi korban. Diantaranya antara lain : Arif rahman Hakim, Zubaidah di Jakarta, Aris Munandar, Margono yang gugur di Yogyakarta, Hasannudin di Banjarmasin, Muhammad Syarif al-Kadri di Makasar, kesemuanya merupakan pahlawan-pahlawan ampera yang berjuang tanpa pamrih dan semata-mata demi kemaslahatan ummat serta keselamatan bangsa serta negara. Akhirnya puncak tututan tersebut berbuah hasil yang diharap-harapkan dengan keluarnya Supersemar sebagai tonggak sejarah berdirinya Orde Baru.
6. Fase Pembangunan (1969 – 1970)
Setelah Orde Baru mantap, Pancasila dilaksanakan secara murni serta konsekuen (meski hal ini perlu kajian lagi secara mendalam), maka sejak tanggal 1 April 1969 dimulailah Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). HMI pun sesuai dengan 5 aspek pemikirannya turut pula memberikan sumbangan serta partisipasinya dalam era awal pembagunan. Bentuk-bentuk partisipasi HMI baik anggotanya maupun yang telah menjadi alumni meliputi diantaranya :
1) Partisipasi dalam pembentukan suasana, situasi dan iklim yang memungkinkan dilaksanakannya pembangunan.
2) Partisipasi dalam pemberian konsep-konsep dalam berbagai aspek pemikiran
3) Partisipasi dalam bentuk pelaksana langsung dari pembangunan. 7. Fase Pergolakan dan Pembaharuan Pemikiran (1970 – 1998 )
Suatu ciri khas yang dibina oleh HMI, diantaranya adalah kebebasan berpikir dikalangan anggotanya, karena pada hakikatnya timbulnya pembaharuan karena adanya pemikiran yang bersifat dinamis dari masing-masing individu.
Disebutkan bahwa fase pergolakan pemikiran ini muncul pada tahun 1970, tetapi geja-gejalanya telah nampak pada tahun 1968. Namun klimaksnya memang terjadi pada tahun 1970 dimana secara relatif masalah-masalah intern organisasi yang rutin telah terselesaikan. Sementara dilain sisi persoalan ekstern muncul menghadang dengan segudang problema.
Pada tahun 1970 Nurcholis Madjid menyampaikan ide pembaharuan dengan topic keharusan pembaharuan didalam pemikiran Islam dan masalah integritas umat. Sebagai konsekuensinya di HMI timbul pergolakan pemikiran dalam berbagai substansi permasalahan yang. Perbedaan pendapat dan penafsiran menjadi dinamika di dalam menginterpretasikan dinamika persoalan kebangsaan dan keumatan. Hal ini misalnya dalam dialektika dan perbincangan seputar Negara dan Islam, konsep Negara Islam, persoalan Islam Kaffah sampai pada penyesuaian dasar HMI dari Islam menjadi Pancasila sebagai bentuk ijtihad organisasi didalam mempertahankan cita-cita jangka panjang keummatan dan kebangsaan.
8. Fase Reformasi
Secara historis sejak tahun 1995 HMI mulai melaksanakan gerakan reformasi dengan menyampaikan pandangan, gagasan dan kritik terhadap pemerintahan. Sesuai dengan kebijakan PB HMI bahwa HMI tidak akan melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional dan konfrontatif. Gerakan koreksi pemerintahanpertama disampaikan pada jaman konggres XX HMI di Istana Negara tanggal 21 Januari 1995. kemudian peringatan MILAD HMI Ke 50 Saudara Ketua Umum Taufiq Hidayat menegaskan dan menjawab kritik-kritik yang menyebutkan bahwa HMI terlalu dekat dengan kekuasaan. Bagi HMI kekuasaan bukanlah wilayah yang haram. Tetapi adalah wilayah pencermatan dan kekritisan terhadap pemerintahan. Kemudian dalam penyampaian Anas Urbaningrun pada MILAD HMI ke 51 di Graha Insan Cita Depok tanggal 22 Pebruari 1998 dengan judul “Urgensi Reformasi bagi Pembangunan Bangsa Yang Bermartabat”.
9. HMI pasca Reformasi – kini
HMI pasca reformasi hingga kini memang sudah menuai beberapa kemunduran, dibanding para founding father kita. Namun, untuk meminimalisir hal tersebut tentu kita harus tetap kembali kepada tujuan HMI, terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT...
Tentu, tantangan kita hari ini lebih berat, namun bagaimana pun kita menempatkan HMI sebagai second university yang senantiasa dinamis dan berkesinambungan.
Refrensi Draf kongres HMI, Palembang, 2008.
Karim, M. Rusli, HMI MPO Dalam kemelut modernisasi Politik di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1997)
Sitompul, Agussalim, Pemikiran HMI dan Relefansinya dengan Sejarah perjuangan bangsa Indonesia, (Jogjakarta: Aditya Media, 1997)
Sitompul, Agussalim dkk. HMI Mengayuh diantara cita dan kritik, (Jogjakarta: Aditya Media, 1997).
Sulastomo, Hari-Hari Yang Panjang, 1963-1966. Jakarta, Kompas, 2000 Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008.
Nasution Harun, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandigan, Jakarta: Universitas Indonesia press, 1986.
www.muhammadharis87.blogspot.com muhammadharis87@yaho.com
* Disampaikan dalam Latihan Kader I (LK I) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya Komisariat Farmasi Airlangga, pada kamis, 1 April 2010 di Surabaya Jawa Timur
* Adalah Sekretaris Umum HMI Komisariat Tarbiyah Sunan Ampel periode 2008-2009, Penggagas dan Pendiri Lingkar Cakrawala Pelangi (LCP) Surabaya 2008.

Kamis, 24 Desember 2009

Mereka-Mereka Yang Sedang Berlatih Menjadi Pemimpin Umat dan Bangsa…

Sungguh merupakan amanah yang sangat besar untuk menjadi seorang pemimpin. Fitrah manusia memang didesain menjadi pemimpin, meski ketidaksempurnaan itu melekat pada seorang pemimpin. Untuk menjadi pemimpin umat dan bangsa tentunya harus menjadi pemimpin di lingkup kecil terlebih dahulu. Mereka-mereka yang sedang berlatih menjadi pemimpin umat dan bangsa di masa yang akan datang, adalah sebagai berikut :

1. Imam Ghozali
Proses organisasi yang dinamis, akhirnya Saudara Imam Ghozali terpilih menjadi orang nomor satu di Ikatan Mahasiswa Ronggolawe (IMARO) Tuban IAIN Sunan Ampel periode 2009-2010 dalam Forum Tahunan Anggota (FORTA) IMARO Tuban IAIN Sunan Ampel dengan 38 suara, bertempat di Kebon Sari Gang 5 Surabaya pada hari Sabtu, tanggal 30 Mei 2009.

2. M. Faid Walhakim
Amanat perkaderan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya Komisariat Tarbiyah Sunan Ampel periode 2009-2010 diserahkan kepada Saudara M. Faid Walhakim dengan mengantongi 40 suara, melalui Rapat Anggota Komisariat (RAK) pada hari Selasa, 16 Juni 2009 pukul 03.20 di gedung STAI Rewwin Sidoarjo.

3. Irsyadul Ibab
Demi dinamisasi roda kepengurusan, Saudara Irsyadul Ibad terpilih dengan suara 25 dalam forum Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Paduan Suara Mahasiswa (PSM) IAIN Sunan Ampel Surabaya, Rabu, 24 Juni 2009 21:45 gedung Rektorat IAIN Sunan Ampel Lt. 1

4. Ubaidillah Mahmud
Diamanati untuk menjadi orang nomor satu di Forum Komunikasi Mahasiswa Bojonegoro (FKMB) periode 2009-2010, dengan 15 suara dalam forum Musyawarah Tahunan (MUSTA) pada hari Sabtu, 27 Juni 2009 pukul 04:00 depan gerbang IAIN Sunan Ampel Surabaya.

5. Muhammad Haris
Mohon do’a dan restu menuju HMI KORKOM Sunan Ampel 1. Dan ternyata pada hari rabu 9 desember 2009 sekitar pukul 01.45, MH kalah dalam konstalasi menuju KORKOM Sunan Ampel.



“Semoga bisa mengemban amanah dan tanggung jawab dengan baik. Tetap semangat!!!”




Surabaya; Kamis, 24 Desember 2009

Rabu, 09 September 2009

Menuju KORKOM SA 1

Bismillahirrahmaanirrahiim.....

Muhammad Haris, salah satu kader HMI Komisariat akan menuju menjadi Ketua Umum KORKOM HMI Sunan Ampel periode 2009-2010 pada hari Jum'at, 11 September 2009 di Graha Insan Cita (GIC) Sunan Ampel.
Mohon keluasan hati, do'a & restu dari semuanya. Orang tua di Pangandaran, MasQ se-keluarga, Adik-AdikQ serta kawan-kawan seperjuangan; Muhammad Khalil, Ubaidillah Mahmud, Moh. Faid Walhakim, Irsyadul Ibad, Imam Ghozali serta semua kanda&yunda.

Yakin Usaha Sampai (YAKUSA)

Aku pasrah kepada-Mu Ya Allah, Tuhan semua makhluk, bumi serta isinya....

Jumat, 28 Agustus 2009

Mengintip Pemandangan Dibalik Program Online*

“Tahun ajaran baru periode 2009-2010 sudah ditabuh. Sistem program online yang baru dilaksanakan tahun ajaran lalu, tahun ini dilanjutkan. Salah satu mahasiswa mencoba menerawang pemandangan dibalik program online tersebut”.

Seolah sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi. Pemrograman yang sedianya dimulai pada 29 juli hingga 7 agustus 2009 ternyata belum siap. Terbukti pada pada hari pertama pemrograman hanya berdurasi sekitar satu jam saja, dari mulai jam 8 pagi hingga sekitar jam 9. Hal ini pun menjadi tanda tanya besar!!! Kenapa bisa terjadi? Usut punya ujung, konfirmasi ke pihak akademik dilakukan. Hasil dari pada konfirmasi tersebut bahwa pemrograman sementara waktu ditunda, karena ada kunjungan menteri agama, menteri pendidikan dan gubernur Jawa Timur dalam rangka peresmian pesantren mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Apakah hal tersebut etis? Jelas-jelas sangat tidak etis. Seharusnya pihak akademik tidak bersikap demikian. Karena, seperti yang sudah diketahui bersama bahwa program online pada tanggal tersebut dilaksanakan. Tidak ada sangkut-paut dengan peresmian yang dilaksanakan pihak Rektorat IAIN Sunan Ampel.
Pemandangan lain dalam program online tersebut adalah sistem administrasi ternyata kacau balau. Sebaran jadwal mata kuliah yang seharusnya sudah diupload ternyata belum tertera dalam situs resmi kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kondisi ini pun membuat kemalasan berjama’ah untuk memprogram.
Pada hari kedua program online yang dijadwalkan pun masih menuai keresahan tersendiri. Meski pada 30 juli 2009 program online awalnya bisa memberikan ‘lampu hijau’ bagi para mahasiswa-i, ternyata koneksi ke server IAIN pun sangat melambat.
Carut marut yang ada dalam program online tersebut ternyata membuat para civitas akademika menjadi resah. Menjadi mandat tersendiri bahwa pihak akademik Fakultas Tarbiyah (khususnya) harus profesional dalam segala aspek. Karena, mahasiswa adalah raja (harus dilayani).

Terlepas dari uraian penulis dalam mengungkap pemandangan dibalik program online tersebut, penulis menegaskan saran bahwa pihak akademik harus konsisten dalam memberikan dan mengawal kebijakan yang ada.

Hidup mahasiswa!!!

* Penulis adalah mahasiswa Fakultas Tarbiyah PAI/VII, yang belum mempunyai bidadari penyelamat, dan mencoba menjadi Anak Bangsa dalam mengawal negeri Indonesia suatu saat nanti. Penulis berasal dari salah satu desa terpencil diKecamatan Pangandaran.


Pateguhan, 30 Juli 2009

Sabtu, 11 Juli 2009

Kunjungan Ke PMII Kom. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel

Sebelum pelepasan jabatan menjadi Sekretaris Umum HMI Komisariat Tarbiyah Sunan Ampel periode 2008-2009, Saya bersama sebagian personalia pengurus berkunjung ke PMII Komisariat Tarbiyah IAIN Sunan Ampel yang beralamat di Jl. Jemur Wonosari Gang Modin Surabaya. Meski ditempat yang sangat sederhana, Saya bersama kawan-kawan merasa senang dan lega setelah sekian lama keinginan berkunjung secara resmi akhirnya terwujud. Dibawah ini salah satu video kunjugan tersebut.

Sabtu, 27 Juni 2009

Berpose bersama dalam acara Follow Up HMI Tarbiyah periode 2007-2008 di Dlundung-Mojokerta pada april 2008. Tanggalnya lupa euy.

Minggu, 15 Maret 2009

PENDIDIKAN ALTERNATIF[1]

Muhammad Haris[2]

Prolog

”Saya ingin cucu saya pintar, karenanya saya larang ia sekolah,” kata Margareet Mead suatu ketika. ”Saya tahu sekolah telah mati (school is dead),” gerutu Everett Riemer. ”Masyarakat bebas sekolah,” tulis Ivan Illich dalam buku termasyhurnya. “Sekolah itu candu,” ungkap Roem Tomatipatang. Dan ”Orang Miskin dilarang sekolah,” sindir Eko Prasetyo.

Ungkapan pedas diatas merupakan kritik terhadap proses dan sistem pendidikan di Indonesia yang selama ini manipulatif diterapkan penguasa. Pendidikan tidak lagi menghantarkan seseorang menjadi self confidence dalam kehidupan sehari-hari. Institusi pendidikan belum bisa menjadi wadah bagi aktualisasi diri, membuka cakrawala, kebebasan berfikir dan sederet perihal yang dibutuhkan seseorang di sekolah.

Memang secara kolektif apabila difamahi pendidikan merupakan basic need bagi seluruh manusia. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa setiap orang membutuhkan pendidikan. Tentunya demi masa depan yang lebih terarah, dewasa dan survive dalam mengarungi kehidupan yang semakin keras.

Dunia pendidikan di Indonesia hingga kini masih saja diselimuti berbagai kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak mencerminkan salah satu amanat UUD ’45 ”mencerdaskan kehidupan bangsa”. Satu sisi para praktisi pendidikan sudah sangat faham akan problem pendidikan saat ini. Sisi lain, ternyata realitas membuktikan bahwa semangat revolusi-inovatif dalam mereduksi problematika pendidikan tidak ada sama sekali. Bukan lantas berpretensi melakukan pembenahan. Melainkan para praktisi pendidikan lebih berbuat demi kepentingan individualisme.

Kemudian, jika penulis bertanya ”mau dibawa kemana arah pendidikan kita?” ”Apakah lantas kita diam, sambil menunggu datang perubahan tanpa berbuat sesuatu!” Tentu tidak! Sudah saatnya Indonesia bangkit dari berbagai keterpurukan, demi kemaslahatan bangsa dan negara.

Seperti yang kita ketahui Indonesia sudah berusia 63 tahun, 100 tahun kebangkitan nasional dan 8 tahun reformasi telah bergulir. Kita harus berani katakan sudah saatnya kita keluar dari kemalasan kolektif, progresif serta integral dengan semangat juang demi Indonesia yang mandiri di tengah-tengah keterpurukan serta cengkraman globalisasi.

Desentralisasi Setengah Hati…

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Benny Susetyo (2005) kebijakan otonomi daerah melalui paket UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999 dirasa merupakan desentralisasi setengah hati. Betapa tidak, antara kewenangan pusat dan daerah terjadi tarik menarik. Kita merasakan adanya ketidakpuasan pusat yang menyerahkan kewenangannya kepada daerah. Di sisi lain, kita juga merasakan adanya ketidaksiapan baik secara kelembagaan maupun secara pelaksanaan di daerah.

Otonomi daerah seharusnya secara otomatis membawa ‘angin segar’ bagi para penguasa di daerah untuk melakukan perubahan, manajemen SDM dan SDA yang sekiranya bisa dikembangkan. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa otonomi daerah sendiri dikeluarkan untuk memberikan ruang gerak daerah dalam memberdayakan dan mengembakan segala potensi yang ada. Ternyata di lapangan tidak! Mentalitas korupsi yang tadinya hanya terungkap di pusat, akhirnya merambah secara brutal di daerah dan menjadi public virus.

Lantas, bagaimana dengan desentralisasi pendidikan kita? Disatu sisi bahwa pemerintah sangat mengharap partisipasi masyarakat dalam mewujudkan desentralisasi pendidikan. Sisi lain, ternyata Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi salah satu parameter yang sungguh-sungguh merupakan sentralistis. Hal ini merupakan point yang jelas-jelas merupakan desentralisasi setengah hati.

Perlunya Pendidikan Alternatif

Menurut Susetyo (2005) dunia pndidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Tantangan tersebut adalah: pertama, dunia pendidikan dituntuk untuk dapat mempertahankan hasil-hasil pembangunan pendidikan yang telah dicapai. Kedua, untuk mengantisipasi era global dunia pendidikan dituntut untuk mempersiapkan SDM yang kompeten agar mampu bersaing dalam pasar kerja global. Ketiga, sejalan dengan diberlakukannya otonomi daerah, perlu dilakukan perubahan dan penyesuaian sistem pendidikan nasional sehingga dapat mewujudkan program pendidikan yang lebih demokratis.

Sebenarnya, para praktisi pendidikan, dosen, guru, pemerhati pendidikan, sudah sangat faham akan segala seluk beluk pendidikan Indonesia saat ini. Tetapi, mereka masih ‘jalan ditempat’ untuk tidak memberikan problem solving yang setidaknya meminimalisir.

Seperti yang diungkapkan Paulo Freire (1985) dalam formulasi pendidikannya dalam ”Pendidikan Kaum Tertindas” mengemukakan bahwa konsep pendidikan yang ditawarkan merupakan sebuah sistem pendidikan yang ditempa dan dibangun kembali bersama dengan, dan bukan diperuntukkan bagi, kaum tertindas. Sistem pendidikan pembaharu ini, kata Freire, adalah pendidikan untuk pembebasan—bukan untuk penguasaan (dominasi).

Pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakkan sosial-budaya (social and cultural domestication). Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia dan, karena itu secara metodologis bertumpu diatas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total- yakni prinsip bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas dan pada sisi simultan lainnya secara terus-menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas tersebut.

Dehumanisasi adalah bentuk ungkapan nyata dari proses alienasi dan dominasi; sedangkan pendidikan yang humanis adalah proyek utopia (dalam arti yang positif) untuk kaum tertindas dan terjajah. Jelas keduanya mengimplikasikan sebuah aksi yang dilakukan oleh mereka sendiri dalam kehidupan sosial untuk melanggengkan status quo.

Dalam hal ini, penulis sangat prihatin melihat keadaan real pendidikan di Indonesia yang seperti ini. Suatu saat setelah lulus dari dunia akademisi (IAIN Sunan Ampel) ini, penulis ingin membangun ‘Pendidikan Alternatif’ di daerah penulis sendiri. SDA yang memadai, insyaallah bisa mendukung terselenggaranya ‘Pendidikan Alternatif’ tersebut. Memang, tidak semudah membalik tangan untuk membangun lembaga tersebut. Namun, penulis sangat yakin suatu saat pasti ada jalan keluar untuk mewujudkan ‘Pendidikan Alternatif’, dengan prinsip; sudah saatnya pendidikan milik semua (bukan borjuis saja), proletar pun butuh pendidikan. Semoga suatu saat bisa terwujud. Aminn

Penutup

Demikianlah yang bisa penulis uraikan dalam goresan kertas. Penulis hanya bisa berharap pada seluruh penguasa di Senayan mendengarkan suara-suara rakyat dan merealisasikan suara-suara tersebut, khususnya suara ‘Pendidikan Gratis’.

Surabaya, 3-4 September 2008



[1] Essai diajukan untuk memenuhi persyaratan beasiswa DJARUM BAKTI PENDIDIKAN

[2] Mahasiswa aktif Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI SMT V IAIN Sunan Ampel Surabaya dan aktif di HMI Cabang Surabaya Komisariat Tarbiyah Sunan Ampel